“Sekolah Pluralisme menjadi wadah pembelajaran dan dialog antarumat beragama. Ini merupakan komitmen bersama IAKN Manado dan Komisi Pemuda SAG untuk membingkai pluralisme dalam konstitusi dan nilai-nilai keagamaan masing-masing,” ujarnya.

Ia menjelaskan, peserta tidak hanya menerima materi di dalam kelas, tetapi juga diajak melakukan analisis terhadap berbagai fenomena sosial yang ada di Sulawesi Utara.

Selama pelaksanaan kegiatan, peserta akan mengunjungi sejumlah kawasan bersejarah dan rumah ibadah, seperti Kampung Cina, Kampung Arab, Klenteng Ban Hin Kiong, serta masjid. Mereka juga akan melakukan analisis sosial di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumompo.

Sebanyak 40 peserta mengikuti kegiatan ini yang terdiri dari 21 laki-laki dan 19 perempuan. Mereka berasal dari berbagai latar belakang agama, organisasi, dan perguruan tinggi, di antaranya Nahdlatul Ulama (NU), Ahmadiyah, Muhammadiyah, Tiberias, GPdI, gereja-gereja anggota SAG, Gereja Katolik, Kristen Ortodoks Oriental, Anglikan Manado, Buddha, Hindu, UKIT, hingga Universitas De La Salle.

Natalia menegaskan kegiatan tersebut mendapat dukungan penuh dari Komisi Pemuda SAG dan IAKN Manado.