MANADO,JELAJAHSULUT.COM – Hubungan antara iman, filsafat, dan ilmu pengetahuan menjadi salah satu isu penting dalam pengembangan pendidikan tinggi. Ketiganya dinilai dapat berjalan beriringan dalam membentuk manusia yang memiliki kedalaman spiritual sekaligus kemampuan intelektual.

Perspektif tersebut diangkat Politeknik Negeri Manado (Polimdo) melalui seminar internasional bertajuk The Depth of Christian Intellectual Tradition: Tracing Back Philosophical, Theological and Scientific Engagement.

Kegiatan yang diselenggarakan Biro Kerohanian Kristen (BKK) Polimdo ini menghadirkan Patrick America, Director PT A.K. Agung dan vizium.ai, Founder Arkitech International B.V., serta Elder di GMI New Life Church, Jakarta.

Seminar tersebut menjadi kesempatan bagi sivitas akademika untuk memperluas pemahaman mengenai perjalanan tradisi intelektual Kristen dan kontribusinya terhadap perkembangan pemikiran manusia.

Pembahasan tidak hanya berkaitan dengan pemahaman teologis, tetapi juga menyentuh bagaimana iman dapat menjadi landasan dalam membangun perspektif terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, dan kehidupan sosial.

Dalam pemaparannya, Patrick America menekankan pentingnya menempatkan Tuhan sebagai sumber ilmu pengetahuan sekaligus Allah atas pemerintahan. Pemahaman tersebut menjadi dasar bagi umat Kristen dalam melihat kehidupan dan menjalankan tanggung jawab di tengah masyarakat.

Ia juga mengajak peserta untuk memiliki cara pandang yang lebih mendalam dalam merespons berbagai persoalan. Setiap tindakan, menurutnya, perlu dilandasi pemahaman dan perspektif iman yang benar.

Bagi lingkungan perguruan tinggi, pembahasan ini relevan karena mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai keterampilan profesional, tetapi juga memiliki kemampuan menganalisis persoalan dan menentukan sikap secara bertanggung jawab.

Melalui seminar internasional ini, Polimdo turut membuka ruang perjumpaan antara pemikiran akademik dan refleksi spiritual. Pendekatan tersebut diharapkan memperkaya wawasan mahasiswa dalam memahami hubungan antara keyakinan, pengetahuan, dan realitas kehidupan.

Penguatan tradisi intelektual Kristen juga menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak semata-mata berorientasi pada pencapaian akademik dan kompetensi kerja, tetapi turut membentuk manusia yang memiliki integritas, kebijaksanaan, serta tanggung jawab moral.