MANADO, JELAJAHSULUT.COM– Komisi III DPRD Provinsi Sulawesi Utara menaruh perhatian serius terhadap persoalan krisis air bersih yang masih dialami sejumlah wilayah. Hal itu mengemuka dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Sulut yang dipimpin Ketua Komisi III, Berty Kapojos.
Selain mengevaluasi kebutuhan anggaran Dinas ESDM, rapat juga membahas langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mempercepat penanganan persoalan air bersih, khususnya di wilayah Kecamatan Sonder, Kabupaten Minahasa.
Berty Kapojos meminta Dinas ESDM menyusun perhitungan kebutuhan anggaran secara komprehensif agar program prioritas dapat didukung pendanaan yang memadai.
Ia juga meminta dinas segera menyampaikan perkembangan proyek pengeboran air yang sedang berlangsung di Sonder agar Komisi III dapat melakukan peninjauan langsung setelah pekerjaan selesai.
Persoalan air bersih kemudian menjadi fokus pembahasan setelah anggota Komisi III, Amir Liputo, menyampaikan aspirasi masyarakat Desa Kolongan Atas yang hingga kini masih mengalami kesulitan memperoleh air bersih.
Menurut Amir, solusi yang dibutuhkan masyarakat bukan sekadar pengeboran sumur, tetapi pembangunan jaringan distribusi dan penampungan air sehingga pasokan dapat menjangkau kawasan permukiman.
Ia meminta Dinas ESDM memberikan kajian teknis mengenai potensi sumber air di wilayah tersebut sebagai dasar koordinasi dengan instansi terkait, termasuk Dinas Pekerjaan Umum, untuk pembangunan infrastruktur pendukung.
Pandangan serupa disampaikan anggota Komisi III, Roy Roring. Mantan Bupati Minahasa itu menjelaskan bahwa wilayah bagian bawah Sonder memiliki sumber air yang cukup melimpah, sementara daerah Kolongan Atas masih mengalami keterbatasan pasokan sehingga diperlukan solusi distribusi yang tepat.
Roy juga mengungkapkan bahwa PDAM Minahasa pernah melakukan penggantian jaringan pipa di kawasan tersebut. Selain itu, menurutnya masih terdapat potensi sumber air di kawasan kaki Gunung Renkoan yang perlu dikaji kembali melalui survei teknis.
Dalam diskusi, turut mengemuka usulan agar pencarian sumber air tidak hanya mengandalkan survei geolistrik, tetapi juga mempertimbangkan pengalaman masyarakat lokal yang selama ini dikenal memiliki kemampuan menemukan titik sumber air. Usulan tersebut disampaikan sebagai masukan dalam rangka memperkaya alternatif pendekatan di lapangan.
Menutup rapat, Komisi III DPRD Sulut berharap Dinas ESDM segera menindaklanjuti seluruh masukan yang berkembang, baik terkait penyusunan anggaran maupun percepatan penanganan krisis air bersih, sehingga kebutuhan dasar masyarakat di berbagai daerah dapat terpenuhi secara berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan