MANADO,JELAJAHSULUT.COM– Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado kembali menegaskan komitmennya dalam membentuk generasi muda yang menjadi agen perubahan melalui penyelenggaraan Sekolah Pluralisme “Interfaith” 2026. Tahun ini menjadi kali kedua kampus tersebut menjadi tuan rumah pelaksanaan kegiatan.
Rektor IAKN Manado, Olivia Wuwung, mengatakan Sekolah Pluralisme bukan sekadar forum dialog lintas iman, tetapi menjadi ruang pembelajaran untuk memperkuat semangat kebersamaan dan toleransi di kalangan generasi muda.
Menurutnya, tema “Different Voices, Shared Future” mengandung pesan bahwa keberadaan Tuhan bukanlah penghalang yang memisahkan manusia, melainkan menjadi penghubung untuk membangun relasi yang harmonis dengan sesama.
Ia menilai keberagaman merupakan modal sosial yang sangat berharga. Namun di sisi lain, masyarakat juga menghadapi tantangan baru berupa polarisasi, fanatisme, serta berbagai persoalan yang berpotensi memecah persatuan.
Karena itu, Olivia menekankan pentingnya generasi muda belajar saling memahami, menghargai perbedaan, dan membangun kerja sama lintas agama maupun budaya.
Sebagai perguruan tinggi keagamaan, lanjutnya, IAKN Manado memiliki tanggung jawab moral untuk melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, menjunjung nilai kemanusiaan, serta mampu menjadi pemimpin-pemimpin muda yang membawa perdamaian di tengah masyarakat.
Ia berharap Sekolah Pluralisme Interfaith 2026 tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi terus berlanjut sebagai gerakan yang memberikan dampak nyata dalam memperkuat kerukunan dan kehidupan masyarakat yang inklusif.
Sekolah Pluralisme 2026 resmi dibuka pada Kamis (9/7) di Kampus Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado dengan mengusung tema “Different Voice, Shared Future: Merawat Kebinekaan, Membangun Peradaban Masa Depan”.
Memasuki angkatan kelima, program ini kembali menjadi ruang pembelajaran, dialog, dan kolaborasi bagi generasi muda lintas agama dan kepercayaan di Sulawesi Utara.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 9–11 Juli 2026, merupakan hasil kolaborasi Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado bersama Komisi Pemuda Sinode Am Gereja-Gereja (SAG) Sulawesi Utara-Tengah.
Ketua Panitia, Natalia Lahamendu, M.Si., mengatakan Sekolah Pluralisme lahir dari keprihatinan terhadap berbagai gejolak sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Dari kondisi tersebut, lahir sebuah komitmen untuk membangun ruang dialog yang mampu memperkuat kehidupan bersama di Sulawesi Utara yang dikenal dengan semangat Torang Samua Basudara.
“Sekolah Pluralisme menjadi wadah pembelajaran dan dialog antarumat beragama. Ini merupakan komitmen bersama IAKN Manado dan Komisi Pemuda SAG untuk membingkai pluralisme dalam konstitusi dan nilai-nilai keagamaan masing-masing,” ujarnya.
Ia menjelaskan, peserta tidak hanya menerima materi di dalam kelas, tetapi juga diajak melakukan analisis terhadap berbagai fenomena sosial yang ada di Sulawesi Utara.
Selama pelaksanaan kegiatan, peserta akan mengunjungi sejumlah kawasan bersejarah dan rumah ibadah, seperti Kampung Cina, Kampung Arab, Klenteng Ban Hin Kiong, serta masjid. Mereka juga akan melakukan analisis sosial di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumompo.
Sebanyak 40 peserta mengikuti kegiatan ini yang terdiri dari 21 laki-laki dan 19 perempuan. Mereka berasal dari berbagai latar belakang agama, organisasi, dan perguruan tinggi, di antaranya Nahdlatul Ulama (NU), Ahmadiyah, Muhammadiyah, Tiberias, GPdI, gereja-gereja anggota SAG, Gereja Katolik, Kristen Ortodoks Oriental, Anglikan Manado, Buddha, Hindu, UKIT, hingga Universitas De La Salle.
Natalia menegaskan kegiatan tersebut mendapat dukungan penuh dari Komisi Pemuda SAG dan IAKN Manado.
Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua MPH PGI Manuputty Ketua PbNU Bidang media dan Informasi, Gugun Gumelar Staf Ahli Kementrian Agama RI, Kepala Kantor emenag Sulut yang diwakili Franky Rompas dan tamu undangan lainnya.

Tinggalkan Balasan