MINAHASA SELATAN, JELAJAHSULUT.COM – Christiany Eugenia Paruntu (CEP) kembali menjadi sorotan di tengah dinamika politik Sulawesi Utara. Menghadapi berbagai isu dan tudingan yang ditujukan kepadanya, CEP memilih tidak membalas dengan kebencian.

Ia justru menegaskan pentingnya pengampunan. Bagi CEP, Tuhan adalah Maha Pengampuni sehingga manusia juga sepatutnya belajar untuk mengampuni.

Sikap tersebut bukan sesuatu yang baru bagi CEP. Saat masih menjabat sebagai Bupati Minahasa Selatan, ia dikenal memilih memaafkan orang-orang yang pernah menjelekkan bahkan menfitnah dirinya.

Menariknya, sejumlah orang yang dahulu pernah berseberangan, mengkritik, atau bahkan menyudutkannya, justru kemudian dapat kembali membangun hubungan baik dengan CEP. Mereka yang sebelumnya menjadi bagian dari dinamika politik tersebut, kini bahkan ada yang menjadi teman.

Bagi CEP, perbedaan pandangan dan persoalan politik tidak harus menjadi alasan untuk memutuskan hubungan antarsesama.

“Yang penting kita bisa mengampuni. Tuhan saja Maha Mengampuni,” menjadi pesan yang kembali dikedepankan CEP dalam menghadapi dinamika yang terjadi.

Sikap mudah mengampuni tersebut menjadi salah satu karakter yang melekat dalam perjalanan politik CEP, khususnya ketika dirinya memimpin Kabupaten Minahasa Selatan selama dua periode.

Di masa kepemimpinannya, CEP juga dikenal dengan julukan “Ibu Pembangunan Bumi Cita Waya Esa”, yang tidak terlepas dari berbagai program pembangunan yang dijalankan di Kabupaten Minahasa Selatan.

Kini, ketika namanya kembali berada dalam pusaran dinamika politik, CEP tampaknya memilih menghadapi berbagai tudingan dengan cara yang sama: tidak menyimpan dendam dan membuka ruang untuk berdamai.

Bagi CEP, orang yang hari ini menjadi lawan politik belum tentu selamanya menjadi lawan. Pengalaman selama menjadi Bupati Minsel menunjukkan bahwa hubungan politik dapat berubah seiring waktu.

Mereka yang dahulu pernah menjelekkan atau menfitnah dirinya, menurut sikap yang ditunjukkannya, tidak harus selamanya menjadi musuh. Dengan pengampunan, hubungan yang sebelumnya renggang bahkan dapat kembali menjadi persahabatan.

Sikap tersebut sekaligus menjadi pesan politik bahwa perbedaan dan konflik tidak harus berakhir dengan permusuhan. Rekam jejak, kedewasaan, dan kemampuan untuk memaafkan menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang pemimpin.

Di tengah dinamika politik Sulawesi Utara saat ini, sikap CEP tersebut kembali menjadi perhatian. Ia memilih tidak membalas fitnah dengan fitnah, melainkan menyerahkan semuanya kepada Tuhan dan tetap membuka pintu pengampunan.