JELAJAHSULUT.COM — Di tengah arus globalisasi dan disrupsi digital yang kian deras, Politeknik Negeri Manado (Polimdo) menegaskan peran strategisnya sebagai penjaga nilai-nilai kebangsaan. Hal itu tergambar dalam pelaksanaan upacara Hari Lahir Pancasila, Sabtu (1/6/2025), yang diikuti seluruh civitas akademika di Gedung Kuliah Terpadu.
Direktur Polimdo, Dra. Maryke Alelo, MBA, memimpin langsung jalannya upacara yang diwarnai semangat persatuan lintas latar belakang. Dalam pidatonya, Maryke menyampaikan bahwa lembaga pendidikan vokasi tidak hanya berfungsi sebagai pencetak tenaga kerja, tetapi juga sebagai garda terdepan dalam merawat ideologi bangsa.
“Kampus vokasi harus menjadi ruang di mana Pancasila tidak hanya diajarkan, tapi dihidupi,” ujar Maryke di hadapan ratusan peserta upacara.
Menurutnya, Pancasila harus menjelma menjadi praktik sehari-hari, dari ruang kelas, laboratorium, hingga layanan administrasi. Nilai gotong royong, keadilan, dan persatuan harus terwujud dalam budaya kampus dan tata kelola lembaga.
“Di era ketika identitas kebangsaan diuji oleh polarisasi sosial dan informasi tak terbendung, kampus menjadi benteng terakhir untuk menanamkan semangat kebangsaan yang utuh,” katanya.
Lebih dari sekadar memperingati momen sejarah, perayaan Hari Lahir Pancasila di Polimdo menjadi panggilan moral untuk menjadikan pendidikan sebagai alat transformasi sosial. Maryke pun mengajak seluruh elemen kampus untuk memperkuat integrasi nilai Pancasila ke dalam kurikulum dan budaya akademik.
“Jika kita ingin Indonesia tetap kuat di masa depan, maka Pancasila harus menjadi napas setiap insan kampus,” tandasnya.
Upacara berlangsung penuh semangat. Mahasiswa mengenakan pakaian rapi dengan nuansa merah putih, sementara para dosen dan ASN tampil khidmat menyanyikan lagu-lagu nasional yang menggugah rasa cinta tanah air.
Polimdo menunjukkan bahwa Hari Lahir Pancasila bukan sekadar agenda tahunan, tapi ruang aktualisasi ideologi dalam dunia pendidikan vokasi yang dinamis.
