Tokyo-Akio Toyoda, Chairman Toyota Motor Corporation, kembali menjadi sorotan setelah menyebut bahwa mobil listrik (EV) tidak selalu menjadi solusi terbaik bagi lingkungan. Dalam wawancaranya dengan Bloomberg, Toyoda mengungkapkan bahwa dalam banyak kasus, EV justru bisa meninggalkan jejak emisi karbon yang lebih besar dibanding mobil hybrid.
Menurutnya, jika listrik yang digunakan untuk mengisi daya EV masih bersumber dari bahan bakar fosil, seperti di Jepang, maka kendaraan tersebut justru berpotensi tiga kali lebih mencemari daripada mobil hybrid.
Toyota, yang telah menjual lebih dari 27 juta unit hybrid sejak peluncuran Prius pertama pada 1997, menilai pendekatan teknologi campuran ini memberikan dampak pengurangan emisi yang lebih nyata dan merata dibandingkan transisi drastis ke EV penuh.
Meskipun telah memperkenalkan lini EV seperti bZ series dan mobil listrik Lexus, Toyota tetap mempertahankan strategi multi-teknologi dengan terus mengembangkan mesin pembakaran internal (ICE), kendaraan hybrid, dan solusi alternatif seperti hidrogen. Salah satu langkah strategis mereka adalah kolaborasi dengan BMW untuk merancang kendaraan hidrogen yang dijadwalkan rilis pada 2028.
Toyoda juga menilai bahwa pasar kendaraan listrik tidak akan sepenuhnya mendominasi. Ia memperkirakan pangsa pasar EV secara global hanya akan mencapai maksimal 30 persen, dengan sisanya masih akan diisi oleh teknologi lain.
“Alih-alih mengejar tren, kita perlu menyesuaikan teknologi dengan realitas energi tiap negara. Solusi tunggal bukan jawaban bagi semua,” ujar Toyoda.
Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa transisi energi perlu mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi secara menyeluruh—bukan sekadar mengganti mesin, tapi merancang masa depan otomotif yang benar-benar berkelanjutan.
